Kamis, 19 Desember 2013

NURLIAH ( 2051211039) dan YONATAHAN HARI MEIRANDA (2051211059) AGRIBI8SNIS 3A

MAKALAH

DASAR-DASAR AGRONOMI

POLA TANAM






NURLIAH ( 2051211039)
YONATAHAN HARI MEIRANDA (2051211059)




JURUSAN AGRIBISNIS 3A
FAKULTAS PERTANIAN, PERIKANAN, DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2013



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
     Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam. Pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa baru atau tidak ditanam selama periode tertentu. Sedangkan pemulsaan adalah suatu teknik untuk menjaga tetapnya suhu tanah di sekitar akar tanaman, menahan uap air dalam tanah, mencegah erosi, dan menghilangkan tumbuhnya gulma dan penyakit. Didalam pola tanam terdapat berbagai jenis yaitu tumpangsari, monokultur dan pola tanam bergilir.
Pola tanam adalah merupakan suatu urutan tanam pada sebidang lahan dalam satu tahun, termasuk didalamnya masa pengolahan tanah. Pola tanam merupakan bagian atau sub sistem dari sistem budidaya tanaman, maka dari sistem budidaya tanaman ini dapat dikembangkan satu atau lebih sistem pola tanam. Pola tanam ni diterapkan dengan tujuan memanfaatkan sumber daya secara optimal dan untuk menghindari resiko kegagalan. Namun yang penting persyaratan tumbuh antara kedua tanman atau lebih terhadap lahan hendaklah mendekati kesamaan.
Pola tanam di daerah tropis, biasanya disusun selama satu tahun dengan memperhatikan curah hujan, terutama pada daerah atau lahan yang sepernuhnya tergantung dari hujan.Makan pemilihan jenis/varietas yang ditamanpun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.
Pola tanam terbagi dua yaitu pola tanam monokultur dan pola tanam polikultur.Pertanian monokultur adalah pertanian dengan menanam tanaman sejenis.Misalnya sawah ditanami padi saja, jagung saja, atau kedelai saja.Tujuan menanam secara monokultur adalah meningkatkan hasil pertanian. Sedangkan pola tanam polikultur ialah pola pertanian dengan banyak jenis tanaman  pada satu bidang lahan yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik.
Pengetahuan mengenai pola tanam sangat perlu bagi petani. Sebab dari usaha tani yang  dilakukan, diharapkan dapat mendatangkan hasil yang maksimal. Tidak hanya hasil yang menjadi objek, bahkan keuntungan maksimum dapat didapat dengan tidak mengabaikan pengawetan tanah dan menjaga kestabilan kesuburan tanah.

1.2 Rumusan Masalah
1)      Apa yang dimaksud dengan pola tanam ?
2)      Apa perbedaan pola tanam polikultur dan monokultur ?
3)      Bagaimana peran mulsa bagi tanaman ?

1.3 Tujuan
1)      Untuk mengetahui pengertian pola tanam
2)      Untuk mengetahui pengertian pola tanam monokultur dan polikultur
3)      Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pola tanam
4)      Untuk mengetahui syarat yang harus diperhatikan dalam pola tanam
5)      Untuk mengetahui pengertian, fungsi, dan macam-macam mulsa
6)      Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan bahan jenis mulsa




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tanam
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam(Vincent, 1996).
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasil kan sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam( Setjanata, 1983 ).
2.2 Pengertian pola tanam
Pola tanam adalah penyusunan cara dan saat tanaman dari jenis-jenis tanaman yang akan ditanam berikutnya pada waktu-waktu kosong pada sebidang lahan tertentu (Novitan, 2002).
Pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa baru atau tidak ditanam selama periode tertentu (Campbell, 2002).
unduhan (1).jpg

2.3 Pola Tanam Monokultur
Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Kekurangan pola tanam ini adalah pola tanam monokultur memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih besar daripada pola tanam lainnya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya persaingan antar tanaman dalam memperebutkan unsur hara maupun sinar matahari, akantetapi pola tanam lainnya lebih efisien dalam penggunaan lahan karena nilai LER lebih dari 1. Kelebihan pola tanam ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Namun, di sisi lain, Kelemahan sistem ini adalah tanaman relatif mudah terserang hama maupun penyakit( Setjanata, 1983 ).
monokultur.jpgmonokultur 2.jpg
2.4 Pola Tanam Polikultur
Polikultur adalah penanaman serentak dua jenis tanaman atau lebih dalam barisan berseling-seling pada sebidang tanah. Kelebihan dari pola tanam ini salah satunya yaitu dapat mengurangi serangan OPT (pemantauan populasi hama), karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin. Sedangkan kekurangannya yaitu terjadi persaingan unsur hara antar tanaman(Semeru, 1995).
polikul.jpgpolikultur.jpg
     v  Keuntungan dan kelebihan pola tanam polikultur
Keuntungan pola tanam polikultur adalah sebagai berikut :
1)      Dapat mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman (pemantauan populasi hama), karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin,
2)      Mampu menambah kesuburan tanah. Hal ini dapat di lakukan dengan menanam tanaman dari family leguminosa atau sejenis kacang-kacangan- yang memiliki kandungan unsur N (nitrogen) dalam tanah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar. Dengan menanam yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman berakardalam, tanah disekitarnya akan lebih gembur.
3)      Siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus, karena sistem ini dibarengi dengan rotasi tanaman sehingga  dapat memutus siklus organism pengganggu tanaman,
4)      Salah satu keuntungan yang lain dari pola tanam polikultur ini adalah memperoleh hasil panen yang beragam. Penanaman lebih dari satu jenis tanaman akan menghasilkan panen yang beragam. Ini menguntungkan karena bila harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga komoditas lainnya.

     v  Kekurangan sistem pola tanam polikultur adalah sebagai berikut :
1)      Terjadinya persaingan dalam mendapatkan dan menggunakan unsur hara antar tanaman dalam tanah,
2)      Organisme pengganggu tanaman banyak, sehingga sulit dalam pengendaliannya dan memerlukan biaya yang lebih mahal.

2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Tanam
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola tanam , yaitu :
Iklim , dimana pada keadaan musim hujan dan kemarau akan berpengaruh pada persediaan air untuk tanaman dimana pada msim hujan maka persediaan air untuk tanaman berada dalam jumlah yang besar, sebaliknya pada musim kemarau persediaan air akan menurun.
Topografi , merupakan letak atau ketinggian lahan dari permukaan air laut yang berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban udara dimana keduanya mempengaruhi pertumbuhan tanaman.Debit Air yang Tersedia , dimana debit air pada musim hujan akan lebih besar dibandingkan pada musim kemarau, sehingga haruslah diperhitungkan apakah debit saat itu mencukupi jika akan ditanam suatu jenis tanaman tertentu.
Jenis tanah , yaitu tentang keadaan fisik , bioligis dan kimia tanaman.
Sosial ekonomi , dalam usaha pertanian faktor ini merupakan faktor yang sulit untuk dirubah sebab berhubungan dengan kebiasaan petani dalam menanam suatu jenis tanaman( Setjanata, 1983 ).



2.6 Syarat yang harus diperhatikan dalam Pola Tanam
Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam penyusunan pola tanam atau usahatani yaitu : Ketersediaan air yang menyangkup waktu dan lamanya ketersediaan yang tergantung padakinerja air irigasi serta pola distribusi dan jumlah hujan.
Keadaan tanah yang meliputi sifat fisik, kimia serta bentuk permukaan tanah.
Tinggi tempat dari permukaan laut, terutama sehubungan dengan suhu udara, tanah dan ketersediaan air.
Eksistensi hama dan penyakit tanaman yang bersifat kronis dan potensial.
Ketersediaan dan aksesibilitas bahan tanaman yang meliputi jenis dan varietas menurut agroekosistem dan toleransi terhadap jasad pengganggu. Aksesibilitas dan kelancaran pemasaran hasil produksi dengan dukungan infrastruktur dan potensial yang memadai(Beets, 1982).
2.7 Pengertian Mulsa
Mulsa adalah bahan atau material penutup tanah pada tanaman budidaya yang banyak digunakan petani pada area yang terbatas maupun perkebunan dengan areal yang luas (Tim Dosen, 2013).
Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Mulsa adalah sebuah pelindung yang menutupi membusuk materi sayuran menyebar untuk mengurangi penguapan dan erosi tanah tutup pelindung, pelindung, perlindungan – penutup yang berniat untuk melindungi dari kerusakan atau cedera; “mereka tidak memiliki perlindungan dari kejatuhan”; “lilin memberikan perlindungan untuk lantai (Farlex, 2010 ).
mulsa an.jpgmulsa orgn.jpg
2.8 Fungsi Mulsa
Mulsa digunakan untuk menjaga kelembaban tanah, mengurangi fluktuasi suhu tanah, menekan pertumbuhan gulma yang dapat mengganggu tanaman budidaya, dan untuk mencegah buah agar tidak langsung menyentuh tanah karena apabila menyentuh tanah buah akan busuk sehingga produksi menurun (Acquaah, 2005 ).
2.9 Macam-macam Mulsa
Mulsa dibedakan menjadi dua macam dilihat dari bahan asalnya, yaitu mulsa organik dan anorganik.
1. Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Contoh mulsa organik adalah jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman jenis rumput-rumputan lainnya.
mulsa alami.jpg
2. Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya relatif mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam budidaya cabai atau melon. fungsi mulsa plastik ini dapat memantulkan sinar matahari secara tidak langsung untuk menghalau hama tungau, thrips dan apahid, selain itu mulsa plastik digunakan dengan tujuan menaikkan suhu dan menurunkan kelembapan di sekitar tanaman serta dapat menghambat munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri(Acquaah, 2005 ).
unduhan.jpg
2.10 kekurangan dan kelebihan bahan jenis mulsa
  1. Mulsa organik
           Kelebihan :
           a. Dapat diperoleh secara bebas/gratis
           b. memiliki efek menurunkan suhu tanah
           c. mengonservasi tanah dengan menekan erosi
  d.dapat menghambat pertumbuhan gulma dan menambahkan unsur hara organik untuk tanah
           e. Mengurangi dampak lingkungan (global warming)
           Kelemahan :
           a. tidak dapat tersedia setiap saat (hanya pada saat panen padi)
           b. hanya tersedia di sekitar tempat budidaya padi,tebu,dan sebagainya
           c. untuk sekali musim tanam
     2. Mulsa anorganik
Kelebihan :
a. dapat diperoleh setiap saat
          b. memiliki efek yang beragam terhadap suhu tanah tergntung jenis plastik
          c. dapat menekan erosi
          d. mudah diangkut, sehingga mudah untuk dibawa
          e. menekan pertumbuhan gulma
          f. dapat digunakan lebih dari satu kali musim tanam (tergantung perawatan)
          Kekurangan :
          a. tidak memiliki efek menambah unsur hara karena sifat yang susah terurai
          b. harga relatif mahal
          c. potensi untuk menaikan suhu sekitar (global warming) tinggi.





2.11 Macam –macam teras
1)      Teras datar      untuk lahan dengan kemiringan 0-3 %
teras datar.jpg
2)      Teras guludan / teras pematang  untuk lahan dengan kemiringan 10-15%, tujuan untuk mengurangi kecepatan air
teras guludan.jpg
3)      Teras kridit : memotong lereng untuk menahan air dari bagian atas lereng dan mengalirkan air melalui saluran pembuang dalam kecepatan yang tidak merusak, untk lahan dengan kemirngan 3-10%
unduhan (4).jpg
4)      Teras bangku untuk lahan dengan kemiringan 10-30%, berfungsi untuk mencegah erosi pada kemiringah tanah
terass bangku.jpg







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasil kan sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam. Sedangkan pola tanam adalah penyusunan cara dan saat tanaman dari jenis-jenis tanaman yang akan ditanam berikutnya pada waktu-waktu kosong pada sebidang lahan tertentu. Pola tanam ada tiga yaitu pola tanam monokultur, pola tanam campuran, pola tanam bergilir. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola tanam yaitu ketersediaan air dalam satu tahun, prasarana yang tersedia dalam lahan tersebut, jenis tanah setempat, kondisi umum daerah tersebut, dan kebiasaan dan kemampuan petani setempat. Sedangkan syarat yang harus dipenuhi dalam pola tanam adalah awal tanam dan jenis tanaman.

images.jpgmulsa alami.jpgimages (3).jpgimages.jpgteras datar.jpgteras guludan.jpgpolikul.jpgunduhan (1).jpg













DAFTAR PUSTAKA
Sugito, Y.1994.Dasar-dasar Agronomi. Malang : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya,
Salisbury Frank.B and Ross Cleon.W (1995). Fisiologi Tumbuhan. Bandung : Penerbit ITB
Andry Harits (1999). Petunjuk Penggunaan Mulsa. Jakarta : Penebar Swadaya.
Ikhsan. 2009. Mulsa. http://informasipertanian.blogspot.com/2009/09/mulsa.html. .[15 Desember 2012]
Ruijter, J. dan F. Agus. Purwowidodo (1982). 2004. Mulsa. http://www.worldagroforestry.org.[15 Desember 2012]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar